Moral berdasarkan arti katanya memiliki arti segala
sesuatu yang berhubungan dengan sikap atau pemikiran yang baik dan buruk
berdasarkan apa yang dipikirkan oleh manusia, seperti terlihat dalam pernyataan
“moral is concerning or relating what is
right and wrong in human behavior; based on what you think is right and good….”[1].
Masalah moral tidak dapat dilepaskan dari keinginan manusia dalam mencari
kebenaran. Hal yang lebih kompleks akan muncul ketika seseoarang dihadapkan
dengan sebuah pilihan moral. Peraturan moral adalah hal yang dapat dibilang
kaku.[2]
Pada kenyataannya manusia seringkali kesulitan untuk menentukan hal yang benar
dan yang salah dan menimbulkan dilemma dikarenakan terdapat beberapa prinsip
moral yang harus dipertimbangkan. Sebuah keputusan yang melibatkan ketegangan
antara prinsip-prinsip moral dapat menghasilkan konflik kognitif dalam diri
seseorang dan memicu perselisihan diantara masyarakat.[3]
Pilihan moral (moral
choices) juga dialami oleh para ilmuwan, salah satunya adalah Albert
Einstein yang harus menentukan pilihan mengenai perannya sebagai ilmuwan
sekaligus warga negara dalam menghadapi perang dan penemuan terbesar dalam ilmu
sains kala itu yaitu nuklir. Pada saat itu Einstein memberi surat kepada
Presiden Amerika Serikat, Franklin J. Roosevelt untuk meperingatkan untuk
melakukan penelitian mengenai senjata atom pada tahun 1939 dan memberitahu bahwa
diperkirakan terdapat pembuatan bom nuklir oleh Negara Jerman.
Dalam surat tersebut, Einstain mengingatkan kepada
Roosevelt:
…Saya
mengetahui bahwa Jerman telah menghentikan penjualan uranium dan Cekoslovakia
yang telah diambilalihnya. Bahkan Jerman telah mengambil tindakan ini mungkin
dapat dihubungkan dengan fakta bahwa putra Menteri Muda Luar Negeri Jerman, Von
Weimsacker, ditugaskan pada lnstitut Kaiser Wilhelm di Berlin di mana beberapa
percobaan uranium yang telah dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba
kembali….[5]
Einstein menginginkan beberapa hal yaitu, yang pertama
adalah untuk mendekati pemerintah Amerika Serikat untuk dapat memasok cukup
uranium yang bertujuan untuk melakukan
riset atau penelitian mengenai uranium dan kemungkinan bom atom/nuklir. Dan
selanjutnya, Untuk mempercepat waktu penelitian/percobaan yang saat itu
dipegang oleh Laboratorium Universitas, agar diberikan fasilitas seperti
peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian yang bisa didapatkan dari
laboratorium industri yang bekerja sama dengan pemerintah. Hal tersebut diminta
oleh Albert Einstein dikarenakan mengetahui bahwa Jerman telah menghentikan
penjualan uranium dan Cekoslovakia yang telah diambilalih ole Jerman. Bahkan
Jerman telah mengambil tindakan ini mungkin dapat dihubungkan dengan fakta bahwa
putra Menteri Muda Luar Negeri Jerman, Von Weimsacker, ditugaskan pada lnstitut
Kaiser Wilhelm di Berlin di mana beberapa percobaan uranium yang telah
dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba kembali.
Gambar 2. Albert Einstein (kiri) dan Franklin
D. Roosevelt (kanan)[6]
Apakah yang rnendorong Einstein merasa berkewajiban untuk
memberikan sarana kepada Presiden Roosevelt untuk membuat bom atom? Apakah
karena dia anti-Rezim Hitler? Apakah karena dia terpanggil oleh kewajibannya
selaku warga Amerika Serikat? Sebagai seorang ilmuwan yang menernukan rumus E =
mc2 yang menjadi dasar bagi pembuatan bom atom yang dahsyat itu,
Einstein merupakan orang yang lebih tahu mengenai akibat dan saran yang
dikemukakannya, baik secara fisik rnaupun secara moral.
Pertanyaan tersebut sangat menarik dan menyentuh kepada
landasan moral yang fundamental. Dewasa ini, Amerika Serikat memang tidak
berada dalam bahaya dan penelitian serta pembuatan bom atom hanya berfungsi
sebagai peingkatan kemampuan strategis militer Amerika Serikat saja. Sedangkan situasi
yang dihadapi Einstein waktu itu adalah keadaan perang yang konkret di mana
Sekutu mungkin kalah apabila Jerman dapat mengembangkan bom atomnya. Inilah
yang menyebabkan Einstein memutuskan untuk menulis surat tersebut. Masalahnya
adalah: apakah dengan keputusan tersebut Einstein memihak kepada Amerika
Serikat selaku seorang warga yang baik?[7]
Hal ini menarik, karena di satu sisi Einstein merupakan
ilmuwan yang ingin mengungkap hal-hal baru yang sudah pasti membutuhkan
dukungan dari negaranya. Di sisi lain Einstein sadar dan paham betul kemajuan
ilmu pengetahuan di bidang nuklir tersebut akan berdampak negative terhadap
umat manusia apabila disalahgunakan. Terdapat beberapa dokumen yang lain, contoh
yang ditulis juga oleh Einstein pada 1952 kepada seorang ilmuwan dan penulis,
Kenneth Heuer. Einstein menyatakan : "About
the technical development in the field of atomic energy: I was not interested
in that matter for years but rather disgusted by the course it has taken in the
hands of short-sighted politicians... To me it is enough to know that the
continuation of the existence of human beings is in serious doubt if no
supra-national solution can be achieved."[8]
Einstein menyatakan bahwa beliau sudah tidak tertarik
apabila bidang keilmuwan sudah terdapat campur tangan politik. Maka dapat
dipastikan dari pernyataan tersebut bahwa Einstein tidak memiliki sikap yang
netral bahkan memihak pada negaranya sendiri melainkan memihak kepada
keberadaan umat manusia atau kemanusiaan.
Keputusan
Einstein bukanlah didasarkan kepada nasionalisme atau patriotisrne. Dalarn
persoalan semacam ini, seharusnya ilmu dan para ilmuwan bersifat netral.
Walaupun demikian dalam kasus ini Einstein telah memilih untuk berpihak. Pihak
manakah yang dia pilih, Amerika Serikat? Sekutu? Jawabannya adalah bukan,
Einstein, seperti juga ilmuwan yang lain, berpihak kepada kemanusiaan yang
besar. Kemanusiaan ini tidak mengenal batas geografis, sistem politik atau
sistem kemasyarakatan lainnya. [9]
Seorang ilmuwan apabila dilihat dari segi moral, tidak
akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas orang lain,
bangsa lain rneskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri
dikarenakan ilmu seharusnya membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan, bukan
sebaliknya. Sejarah telah rnencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap
terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas
kemanusiaan dan moral (yang bersumber dari agama). Ternyata bahwa dalam soal-soal
yang menyangkut kemanusiaan para ilmuwan tidak pernah bersifat netral.[10]
Mereka tegak dan bersuara tanpa memandang dan berpihak pada golongan, ras,
sistem kekuasaan, agama, dan segala sesuatu yang bersifat sosial. Einstein waktu itu memihak Sekutu karena
menurut anggapannya Sekutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Sekiranya Sekutu
kalah maka yang akan muncul di muka bumi adalah rezim Nazi yang tidak
berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku tangan. Dia
harus memilih sikap
Salah satu musuh manusia
adalah peperangan yang akan menyebabkan kehancuran, pembunuhan, kesengsaraan,
peperangan merupakan fakta dari sejarah. Tugas para ilmuwan ialah untuk
mengecilkan atau menghilangkan terjadi peperangan walaupun hal ini sangat
mustahil. Tetapi, seorang ilmuwan Einstein tak jemu menyerukan agar manusia
menghentikan peperangan.
Pengetahuan merupakan
kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan kemanusiaan, atau
sebaliknya disalahgunakan. Seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan hasil
penemuan – penemuannya dalam bentuk apapun dari masyarakat luas serta apapun
juga yang akan menjadi konsekuensinya. Seorang ilmuwan yang berlandaskan moral
akan memilih untuk membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi atau
membuktikan bahwa hasil pembangunan itu efektif maka dalam penemuannya dia
bersifat netral dan membebaskan diri dari semua keterikatannya yang membelenggu
dia secara sadar atau tidak. Kenetralan dalam ilmu menjadikannya bersifat
universal. Ilmu mengabdi kemanusiaan dengan ilmiah. Kemanusiaan seorang ilmuwan
tidak terlepas oleh ruang bahkan waktu. Penemuan yang kurang relevan dan tidak
gunanya hari ini akan menjadi batu loncatan menuju masa depan.
Seperti yang dijelaskan
pada “Ilmu dan Moral”, ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat, yaitu
ilmuwan yang menginginkan ilmu bersifat netral baik secara ontologis maupun
aksiologis dan yang kedua menyatakan bahwa kegiatan keilmuwan harus
berlandaskan asas-asas moral.[11] Maka
apabila seorang ilmuwan dihadapkan kepada pilihan moral, hanya terdapat dua
jawaban, apakah ilmuwan bersikap netral dan tidak memihak atau akan memihak
kepada kemaslahatan bersama.
Kenetralan dalam proses
penemuan para ilmuwan yang mengharuskan ilmuwan bersikap dalam menghadapi
bagaimana penemuan itu digunakan.[12]
Kapankah ilmu pengetahuan bersifat netral? Ilmu pengetahuan bersifat netral
apabila proses kegiatan ilmiah merupakan usaha untuk memajukan ilmu pengetahuan
yang seterusnya. Akan tetapi apabila ilmuwan dihadapkan oleh suatu pilihan yang
menyinggung etika dan moral maka ilmuwan harus mengingat bahwa pengetahuan dapat menjadi berkah atau mengundang bahaya
apabila dipergunakan tidak sebagaimana mestinya. Jika ilmu pengetahuan
dipergunakan tidak sebagaimana mestinya maka akan timbul kutukan dan ilmuwan
harus tampil ke depan dan menjelaskan kepada masyarakat, serta mengambil sikap
yang tegas.
Sebagaimana pesan Albert Einstein, yang berkata bahwa
tidak cukup bagi kita memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah
bagi manusia. Perhatian kepada umat manusia sendiri dan nasibnya harus selalu
merupakan minat utama dari semua ikhtisar teknis.[13]
Ternyata ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual semata namun juga
keluhuran moral. Tanpa pertimbangan moral maka ilmu akan menimbulkan bahaya dan
malapetaka bagi keberadaan umat manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Webster,
Meriam Webster, “Simple Definition of Moral”. Dictionary, diakses dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/moral,
pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.01
Bartels, Daniel
M.Christopher W. Bauman, Fiery A. Cushman, David A. Pizarro, and A. Peter
McGraw “Moral Judgment and Decision
Making,” In G. Keren & G. Wu (Eds.) The Wiley Blackwell Handbook of
Judgment and Decision Making. (Chichester, UK: Wiley, 2015), hlm. 1
Newman, Paul, “Opening The Pandora’s Box Remembering
Hiroshima 65 Years Later”,. diakses dari http://www.paulfrasercollectibles.com/news/memorabilia/2010-news-archive/opening-the-pandoras-box-remembering-hiroshima-65-years-later/4113.page, pada tanggal 7 Maret
2016 pukul 09.47
Kelley,
Peter. “Documents that Changed the World”.
diakses dari http://www.washington.edu/news/2013/08/06/documents-that-changed-the-world-einsteins-letter-to-fdr-1939/
. pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.05
Suriasumantri,
Jujun S. “Filsafat Ilmu: Sebuah
Pengantar Populer”. (Jakarta:Pustaka
Sinar Harapan, 2010)
[1] Meriam Webster,
“Simple Definition of Moral”, Dictionary, diakses dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/moral, pada tanggal 7
Maret 2016 pukul 10.01
[2] Daniel M. Bartels,
Christopher W. Bauman, Fiery A. Cushman, David A. Pizarro, and A. Peter McGraw “Moral Judgment and Decision Making,” In
G. Keren & G. Wu (Eds.) The Wiley Blackwell Handbook of Judgment and Decision
Making. (Chichester, UK: Wiley, 2015),
hlm. 1
[3] Ibid.
[4] Paul Newman, “Opening
The Pandora’s Box Remembering Hiroshima 65 Years Later”, diakses dari http://www.paulfrasercollectibles.com/news/memorabilia/2010-news-archive/opening-the-pandoras-box-remembering-hiroshima-65-years-later/4113.page, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 09.47
[5]
Jujun S.
Suriasumantri, “Filsafat Ilmu: Sebuah
Pengantar Populer”, (Jakarta:Pustaka
Sinar Harapan, 2010), hlm. 246
[6] Peter Kelley, “Documents that Changed the World”,
diakses dari http://www.washington.edu/news/2013/08/06/documents-that-changed-the-world-einsteins-letter-to-fdr-1939/ , pada tanggal
7 Maret 2016 pukul 10.05
[7] Jujun S.
Suriasumantri, “Filsafat Ilmu: Sebuah
Pengantar Populer”, (Jakarta:Pustaka
Sinar Harapan, 2010), hlm. 248
[8] Paul Newman,
op.cit.
[9] Jujun S.
Suriasumantri, loc. cit.
[10] Ibid.
[11] Ibid.
hlm, 235
[12] Ibid.
hlm. 252
[13] Albert
Einstein, “Pesan kepada Mahasiswa
California Instutute of Technology” dalam Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:Pustaka
Sinar Harapan, 2010), hlm. 252




