Tuesday, March 8, 2016

Ilmuwan dan Sebuah Pilihan Menyangkut Moral


Moral berdasarkan arti katanya memiliki arti segala sesuatu yang berhubungan dengan sikap atau pemikiran yang baik dan buruk berdasarkan apa yang dipikirkan oleh manusia, seperti terlihat dalam pernyataan “moral is concerning or relating what is right and wrong in human behavior; based on what you think is right and good….”[1]. Masalah moral tidak dapat dilepaskan dari keinginan manusia dalam mencari kebenaran. Hal yang lebih kompleks akan muncul ketika seseoarang dihadapkan dengan sebuah pilihan moral. Peraturan moral adalah hal yang dapat dibilang kaku.[2] Pada kenyataannya manusia seringkali kesulitan untuk menentukan hal yang benar dan yang salah dan menimbulkan dilemma dikarenakan terdapat beberapa prinsip moral yang harus dipertimbangkan. Sebuah keputusan yang melibatkan ketegangan antara prinsip-prinsip moral dapat menghasilkan konflik kognitif dalam diri seseorang dan memicu perselisihan diantara masyarakat.[3]
Pilihan moral (moral choices) juga dialami oleh para ilmuwan, salah satunya adalah Albert Einstein yang harus menentukan pilihan mengenai perannya sebagai ilmuwan sekaligus warga negara dalam menghadapi perang dan penemuan terbesar dalam ilmu sains kala itu yaitu nuklir. Pada saat itu Einstein memberi surat kepada Presiden Amerika Serikat, Franklin J. Roosevelt untuk meperingatkan untuk melakukan penelitian mengenai senjata atom pada tahun 1939 dan memberitahu bahwa diperkirakan terdapat pembuatan bom nuklir oleh Negara Jerman.
Gambar 1. Surat Albert Einstein kepada Frankiln D. Roosevelt[4]
Dalam surat tersebut, Einstain mengingatkan kepada Roosevelt:
…Saya mengetahui bahwa Jerman telah menghentikan penjualan uranium dan Cekoslovakia yang telah diambilalihnya. Bahkan Jer­man telah mengambil tindakan ini mungkin dapat dihubungkan dengan fakta bahwa putra Menteri Muda Luar Negeri Jerman, Von Weimsacker, ditugaskan pada lnstitut Kaiser Wilhelm di Berlin di mana beberapa percobaan uranium yang telah dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba kembali….[5]
Einstein menginginkan beberapa hal yaitu, yang pertama adalah untuk mendekati pemerintah Amerika Serikat untuk dapat memasok cukup uranium yang bertujuan untuk  melakukan riset atau penelitian mengenai uranium dan kemungkinan bom atom/nuklir. Dan selanjutnya, Untuk mempercepat waktu penelitian/percobaan yang saat itu dipegang oleh Laboratorium Universitas, agar diberikan fasilitas seperti peralatan yang dibutuhkan dalam penelitian yang bisa didapatkan dari laboratorium industri yang bekerja sama dengan pemerintah. Hal tersebut diminta oleh Albert Einstein dikarenakan mengetahui bahwa Jerman telah menghentikan penjualan uranium dan Cekoslovakia yang telah diambilalih ole Jerman. Bahkan Jerman telah mengambil tindakan ini mungkin dapat dihubungkan dengan fakta bahwa putra Menteri Muda Luar Negeri Jerman, Von Weimsacker, ditugaskan pada lnstitut Kaiser Wilhelm di Berlin di mana beberapa percobaan uranium yang telah dilakukan di Amerika Serikat sedang dicoba kembali.

Description: Albert Einstein, left, and President Franklin Roosevelt.
Gambar 2. Albert Einstein (kiri) dan Franklin D. Roosevelt (kanan)[6]
Apakah yang rnendorong Einstein merasa berkewajiban untuk memberikan sarana kepada Presiden Roosevelt untuk membuat bom atom? Apakah karena dia anti-Rezim Hitler? Apakah karena dia terpanggil oleh kewajibannya selaku warga Amerika Serikat? Sebagai seorang ilmuwan yang menernukan rumus E = mc2 yang menjadi dasar bagi pembuatan bom atom yang dahsyat itu, Einstein merupakan orang yang lebih tahu mengenai akibat dan saran yang dikemukakannya, baik secara fisik rnaupun secara moral.
Pertanyaan tersebut sangat menarik dan menyentuh kepada landasan moral yang fundamental. Dewasa ini, Amerika Serikat memang tidak berada dalam bahaya dan penelitian serta pembuatan bom atom hanya berfungsi sebagai peingkatan kemampuan strategis militer Amerika Serikat saja. Sedangkan situasi yang dihadapi Einstein waktu itu adalah keadaan perang yang konkret di mana Sekutu mungkin kalah apabila Jerman dapat mengembangkan bom atomnya. Inilah yang menyebabkan Einstein memutuskan untuk menulis surat tersebut. Masalahnya adalah: apakah dengan keputusan tersebut Einstein memihak kepada Amerika Serikat selaku seorang warga yang baik?[7]
Hal ini menarik, karena di satu sisi Einstein merupakan ilmuwan yang ingin mengungkap hal-hal baru yang sudah pasti membutuhkan dukungan dari negaranya. Di sisi lain Einstein sadar dan paham betul kemajuan ilmu pengetahuan di bidang nuklir tersebut akan berdampak negative terhadap umat manusia apabila disalahgunakan. Terdapat beberapa dokumen yang lain, contoh yang ditulis juga oleh Einstein pada 1952 kepada seorang ilmuwan dan penulis, Kenneth Heuer. Einstein menyatakan : "About the technical development in the field of atomic energy: I was not interested in that matter for years but rather disgusted by the course it has taken in the hands of short-sighted politicians... To me it is enough to know that the continuation of the existence of human beings is in serious doubt if no supra-national solution can be achieved."[8]
Einstein menyatakan bahwa beliau sudah tidak tertarik apabila bidang keilmuwan sudah terdapat campur tangan politik. Maka dapat dipastikan dari pernyataan tersebut bahwa Einstein tidak memiliki sikap yang netral bahkan memihak pada negaranya sendiri melainkan memihak kepada keberadaan umat manusia atau kemanusiaan.
Keputusan Einstein bukanlah didasarkan kepada nasionalisme atau patriotisrne. Dalarn persoalan semacam ini, seharusnya ilmu dan para ilmuwan bersifat netral. Walaupun demikian dalam kasus ini Einstein telah memilih untuk berpihak. Pihak manakah yang dia pilih, Amerika Serikat? Sekutu? Jawabannya adalah bukan, Einstein, seperti juga ilmuwan yang lain, berpihak kepada kemanusiaan yang besar. Kemanusiaan ini tidak mengenal batas geografis, sistem politik atau sistem kemasyarakatan lainnya. [9]
Seorang ilmuwan apabila dilihat dari segi moral, tidak akan membiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas orang lain, bangsa lain rneskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri dikarenakan ilmu seharusnya membawa kemaslahatan bagi kemanusiaan, bukan sebaliknya. Sejarah telah rnencatat bahwa para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan dan moral (yang bersumber dari agama). Ternyata bahwa dalam soal-soal yang menyangkut kemanusiaan para ilmuwan tidak pernah bersifat netral.[10] Mereka tegak dan bersuara tanpa memandang dan berpihak pada golongan, ras, sistem kekuasaan, agama, dan segala sesuatu yang bersifat sosial.  Einstein waktu itu memihak Sekutu karena menurut anggapannya Se­kutu mewakili aspirasi kemanusiaan. Sekiranya Sekutu kalah maka yang akan muncul di muka bumi adalah rezim Nazi yang tidak berperikemanusiaan. Untuk itu seorang ilmuwan tidak boleh berpangku tangan. Dia harus memilih sikap
Salah satu musuh manusia adalah peperangan yang akan menyebabkan kehancuran, pembunuhan, kesengsaraan, peperangan merupakan fakta dari sejarah. Tugas para ilmuwan ialah untuk mengecilkan atau menghilangkan terjadi peperangan walaupun hal ini sangat mustahil. Tetapi, seorang ilmuwan Einstein tak jemu menyerukan agar manusia menghentikan peperangan.
Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan kemanusiaan, atau sebaliknya disalahgunakan. Seorang ilmuwan tidak boleh menyembunyikan hasil penemuan – penemuannya dalam bentuk apapun dari masyarakat luas serta apapun juga yang akan menjadi konsekuensinya. Seorang ilmuwan yang berlandaskan moral akan memilih untuk membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi atau membuktikan bahwa hasil pembangunan itu efektif maka dalam penemuannya dia bersifat netral dan membebaskan diri dari semua keterikatannya yang membelenggu dia secara sadar atau tidak. Kenetralan dalam ilmu menjadikannya bersifat universal. Ilmu mengabdi kemanusiaan dengan ilmiah. Kemanusiaan seorang ilmuwan tidak terlepas oleh ruang bahkan waktu. Penemuan yang kurang relevan dan tidak gunanya hari ini akan menjadi batu loncatan menuju masa depan.
Seperti yang dijelaskan pada “Ilmu dan Moral”, ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat, yaitu ilmuwan yang menginginkan ilmu bersifat netral baik secara ontologis maupun aksiologis dan yang kedua menyatakan bahwa kegiatan keilmuwan harus berlandaskan asas-asas moral.[11] Maka apabila seorang ilmuwan dihadapkan kepada pilihan moral, hanya terdapat dua jawaban, apakah ilmuwan bersikap netral dan tidak memihak atau akan memihak kepada kemaslahatan bersama.
Kenetralan dalam proses penemuan para ilmuwan yang mengharuskan ilmuwan bersikap dalam menghadapi bagaimana penemuan itu digunakan.[12] Kapankah ilmu pengetahuan bersifat netral? Ilmu pengetahuan bersifat netral apabila proses kegiatan ilmiah merupakan usaha untuk memajukan ilmu pengetahuan yang seterusnya. Akan tetapi apabila ilmuwan dihadapkan oleh suatu pilihan yang menyinggung etika dan moral maka ilmuwan harus mengingat bahwa pengetahuan dapat menjadi berkah atau mengundang bahaya apabila dipergunakan tidak sebagaimana mestinya. Jika ilmu pengetahuan dipergunakan tidak sebagaimana mestinya maka akan timbul kutukan dan ilmuwan harus tampil ke depan dan menjelaskan kepada masyarakat, serta mengambil sikap yang tegas.
Sebagaimana pesan Albert Einstein, yang berkata bahwa tidak cukup bagi kita memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah bagi manusia. Perhatian kepada umat manusia sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtisar teknis.[13] Ternyata ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual semata namun juga keluhuran moral. Tanpa pertimbangan moral maka ilmu akan menimbulkan bahaya dan malapetaka bagi keberadaan umat manusia.

DAFTAR PUSTAKA
Webster, Meriam Webster, “Simple Definition of Moral”. Dictionary, diakses dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/moral, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.01
Bartels, Daniel M.Christopher W. Bauman, Fiery A. Cushman, David A. Pizarro, and A. Peter McGraw “Moral Judgment and Decision Making,” In G. Keren & G. Wu (Eds.) The Wiley Blackwell Handbook of Judgment and Decision Making. (Chichester, UK: Wiley, 2015),  hlm. 1
Newman, Paul, “Opening The Pandora’s Box Remembering Hiroshima 65 Years Later”,. diakses dari http://www.paulfrasercollectibles.com/news/memorabilia/2010-news-archive/opening-the-pandoras-box-remembering-hiroshima-65-years-later/4113.page, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 09.47
Kelley, Peter. “Documents that Changed the World”. diakses dari http://www.washington.edu/news/2013/08/06/documents-that-changed-the-world-einsteins-letter-to-fdr-1939/ .    pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.05
Suriasumantri, Jujun S. “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar  Populer”. (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2010)






[1] Meriam Webster, “Simple Definition of Moral”, Dictionary, diakses dari http://www.merriam-webster.com/dictionary/moral, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.01
[2] Daniel M. Bartels, Christopher W. Bauman, Fiery A. Cushman, David A. Pizarro, and A. Peter McGraw “Moral Judgment and Decision Making,” In G. Keren & G. Wu (Eds.) The Wiley Blackwell Handbook of Judgment and Decision Making. (Chichester, UK: Wiley, 2015),  hlm. 1
[3] Ibid.
[4] Paul  Newman, “Opening The Pandora’s Box Remembering Hiroshima 65 Years Later”, diakses dari http://www.paulfrasercollectibles.com/news/memorabilia/2010-news-archive/opening-the-pandoras-box-remembering-hiroshima-65-years-later/4113.page, pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 09.47
[5] Jujun S. Suriasumantri, “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar  Populer”, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2010), hlm. 246
[6] Peter Kelley, “Documents that Changed the World”, diakses dari http://www.washington.edu/news/2013/08/06/documents-that-changed-the-world-einsteins-letter-to-fdr-1939/ , pada tanggal 7 Maret 2016 pukul 10.05
[7] Jujun S. Suriasumantri, “Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar  Populer”, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2010), hlm. 248
[8] Paul Newman, op.cit.
[9] Jujun S. Suriasumantri, loc. cit.
[10] Ibid.
[11] Ibid. hlm, 235
[12] Ibid. hlm. 252
[13] Albert Einstein, “Pesan kepada Mahasiswa California Instutute of Technology” dalam Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2010), hlm. 252

No comments:

Post a Comment